Lompat ke isi utama

Berita

Rahmat Bagja : Ajak Refleksi Ramadan untuk Penguatan Demokrasi

#

by zoom meeting dengan Bawaslu RI

Banyuwangi – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Banyuwangi mengikuti kegiatan Zoom Meeting yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia, Senin (23/02/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Ngabuburit Pengawasan dalam rangka penguatan spirit kelembagaan di bulan suci Ramadan.

Ketua Bawaslu RI, Rahmat Bagja, dalam sambutan sekaligus pembukaan acara menyampaikan bahwa Ramadan merupakan bulan pembakaran dan pembebasan. Bulan ketika hawa nafsu dibakar, kesalahan dilepaskan, dan manusia dibebaskan untuk kembali kepada fitrahnya.

Ia menegaskan bahwa momentum Ramadan sangat tepat dimanfaatkan untuk melakukan refleksi bersama, khususnya bagi seluruh jajaran Bawaslu yang mengemban amanah pengawasan demokrasi. Menurutnya, Bawaslu yang kini hampir berusia 14 tahun dilahirkan dengan tujuan luhur, yakni memastikan proses demokrasi berjalan melalui cara-cara yang benar, jujur, dan berkeadilan.

Rahmat Bagja juga mengingatkan pesan moral bahwa tujuan baik tidak boleh dicapai dengan cara yang tidak baik. Dalam demokrasi, tujuan tidak pernah membenarkan cara, sehingga seluruh tahapan pemilu harus dijalankan melalui proses yang berintegritas.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa tantangan pengawasan ke depan akan semakin berat, terutama dengan perkembangan regulasi dan penafsiran hukum yang kerap kali lebih menguatkan kekuasaan dibandingkan pengawasan. Dalam kondisi tersebut, Bawaslu diuji tidak hanya secara kelembagaan, tetapi juga secara mental, etika, dan spiritual.

Ia mengajak seluruh jajaran Bawaslu, baik komisioner, sekretariat, tenaga ahli, hingga staf pendukung, untuk menyadari bahwa tanggung jawab menjaga marwah demokrasi dipikul bersama. Setiap keputusan, tindakan, maupun kelalaian akan berdampak langsung pada kualitas demokrasi.

Dalam kegiatan tersebut, Ketua Bawaslu RI juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam setiap aktivitas pengawasan, termasuk pelajar sebagai pemilih pemula, kelompok disabilitas, serta unsur masyarakat lainnya. Menurutnya, demokrasi adalah never-ending journey atau perjalanan yang tidak pernah selesai, sehingga pengawasan tidak boleh berhenti meskipun tahapan pemilu telah usai.

Menutup sambutannya, Rahmat Bagja berpesan agar seluruh jajaran Bawaslu bekerja dengan hati. Dengan bekerja menggunakan nurani, pengawasan demokrasi akan terasa lebih ringan, bermakna, dan mampu menjawab harapan masyarakat terhadap kehadiran Bawaslu dalam memperkuat demokrasi Indonesia.

 

Penulis dan Editor : Humas Bawaslu Banyuwangi