Pemilih Pemula Jangan Tergiur Uang! Bawaslu Banyuwangi Bongkar Bahaya Politik Uang di SMK Gajah Mada
|
Banyuwangi - Pemilu bukan sekadar mencoblos di bilik suara. Di balik satu pilihan, ada masa depan bangsa yang dipertaruhkan. Karena itu, pemilih pemula diminta tidak menjual hak pilihnya dengan iming-iming uang, sekaligus lebih kritis menghadapi derasnya informasi di media sosial.
Pesan tersebut disampaikan Untung Apriliyanto, Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Data dan Informasi (Datin) Bawaslu Kabupaten Banyuwangi, dalam kegiatan Sosialisasi Konsolidasi Demokrasi di SMK Gajah Mada Banyuwangi, Senin (7/9/2026).
Di hadapan para pelajar, Untung menekankan bahwa generasi muda yang akan menjadi pemilih pemula pada Pemilu 2029 memiliki posisi strategis dalam menentukan kualitas demokrasi Indonesia.
“Kalau kita ingin negara kita sejahtera dan menjadi negara maju, maka harus dimulai dari bagaimana ketika pemilihan kita bisa memilih pemimpin yang jujur, amanah, dan bertanggung jawab,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Jangan Tukar Masa Depan dengan Uang
Untung mengingatkan pelajar agar tidak menjadikan pemberian uang sebagai alasan untuk menentukan pilihan politik.
Menurutnya, uang yang diberikan menjelang pemilu hanya memberikan keuntungan sesaat, sementara pemimpin yang terpilih akan memegang mandat selama bertahun-tahun.
Ia mengajak peserta menggunakan logika sederhana untuk memahami bahaya politik uang. Ketika seseorang menerima uang dari calon, kata dia, jangan berhenti pada pertanyaan “berapa yang diterima”, tetapi pikirkan pula apa dampaknya terhadap pemerintahan dan masyarakat selama masa jabatan.
“Jangan pernah memilih karena dikasih uang,” menjadi salah satu penekanan penting dalam materi sosialisasi tersebut.
Untung juga mengaitkan politik uang dengan potensi munculnya praktik korupsi. Biaya politik yang besar berpotensi mendorong pihak yang terpilih untuk mencari cara mengembalikan modal politiknya. Pada akhirnya, masyarakat dapat menjadi pihak yang dirugikan.
Karena itu, pemilih pemula harus berani mengatakan tidak pada politik uang dan menjadikan integritas serta rekam jejak sebagai pertimbangan dalam menentukan pilihan.
Generasi Digital Harus Cerdas Bermedia Sosial
Tak hanya politik uang, Untung juga mengingatkan pelajar agar tidak mudah terseret arus informasi di media sosial.
Generasi muda saat ini hidup berdampingan dengan TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya. Kondisi tersebut membuat pemilih pemula menjadi kelompok yang sangat mudah menerima sekaligus menyebarkan informasi.
Menurut Untung, viral bukan berarti benar. Informasi yang beredar harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dipercaya maupun dibagikan.
“Jangan sampai hanya karena viral, hanya karena ramai, kita ikut menyebabkan berita-berita ini,” menjadi pesan yang ditekankan dalam materi.
Literasi digital, lanjutnya, menjadi bagian penting dari demokrasi. Pemilih yang cerdas tidak hanya mampu menentukan pilihan, tetapi juga mampu membedakan informasi yang benar dengan informasi yang menyesatkan.
Pemilih Tak Hanya Memilih, tetapi Mengawasi
Dalam sosialisasi tersebut, peserta juga dikenalkan dengan tiga unsur penting dalam pemilu, yakni pemilih, penyelenggara pemilu, dan peserta pemilu.
Bawaslu merupakan bagian dari penyelenggara pemilu yang memiliki tugas mengawasi setiap tahapan pemilu. Namun, pengawasan tidak cukup jika hanya dilakukan oleh lembaga penyelenggara.
Masyarakat juga memiliki ruang untuk terlibat melalui pengawasan partisipatif.
Untung mengajak pemilih pemula tidak bersikap pasif. Jika menemukan dugaan pelanggaran dalam tahapan pemilu, masyarakat diharapkan berani menyampaikan laporan melalui mekanisme yang tersedia.
“Untuk itu diperlukan adanya pengawasan partisipatif dari para pemilih dan masyarakat,” pesan tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan publik dalam menjaga kualitas pemilu.
Pemilih Pemula Penentu Masa Depan Demokrasi
Kegiatan Sosialisasi Konsolidasi Demokrasi di SMK Gajah Mada menjadi ruang bagi pelajar untuk memahami bahwa hak pilih bukan sekadar formalitas lima tahunan.
Para pemilih pemula nantinya memiliki tanggung jawab untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan mandat memimpin bangsa maupun daerah.
Karena itu, mereka perlu dipersiapkan menjadi pemilih yang cerdas, kritis, berintegritas dan bertanggung jawab.
Demokrasi yang sehat tidak lahir hanya dari penyelenggara pemilu yang berintegritas. Demokrasi juga membutuhkan pemilih yang tidak mudah dibeli, tidak gampang diprovokasi informasi palsu, serta berani ikut mengawasi jalannya pemilu.
Dari ruang kelas hari ini, kesadaran itu diharapkan tumbuh menjadi kekuatan demokrasi pada Pemilu 2029.
Penulis dan Editor : Humas Bawaslu Banyuwangi