Lompat ke isi utama

Berita

Bedah Buku di Banyuwangi: Demokrasi Tak Cukup Dibicarakan, Harus Dikawal Bersama

#

KPU Banyuwangi menggelar Forum Diskusi dan Bedah Buku “Menakar Masa Depan Demokrasi Indonesia” di Aula KPU Banyuwangi. Forum ini menjadi ruang bertukar gagasan untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap demokrasi, kepemiluan, serta tantangan demokrasi Indonesia ke depan.

Banyuwangi, 24 Agustus 2026 - Masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh mereka yang berada di ruang-ruang kekuasaan. Demokrasi juga bergantung pada seberapa banyak masyarakat mau memahami, berdiskusi, mengkritisi, dan ikut mengawalnya.

Pesan tersebut mengemuka dalam Forum Diskusi dan Bedah Buku “Menakar Masa Depan Demokrasi Indonesia” yang digelar di Aula KPU Banyuwangi, Senin (24/8/2026).

Forum tersebut menjadi ruang bertukar gagasan untuk melihat demokrasi dari berbagai perspektif. Tidak hanya membahas kepemiluan dan hukum Pemilu, diskusi juga diarahkan untuk membaca tantangan demokrasi Indonesia ke depan.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan doa yang dipandu oleh Enot Sugiharto, anggota Divisi Sosdiklih, Parmas, dan SDM KPU Banyuwangi. Setelah itu, Enot menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Dalam sambutannya, Enot menegaskan bahwa bedah buku tidak boleh berhenti pada aktivitas membaca dan memahami isi buku. Menurutnya, forum semacam ini justru penting sebagai ruang untuk mempertemukan gagasan dan membangun cara berpikir yang lebih kritis.

“Bedah buku bukan sekadar membahas isi sebuah buku, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar pikiran, memperluas wawasan, serta melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang lebih kritis dan objektif,” ujarnya.

Ia menilai, pemahaman masyarakat terhadap demokrasi dan kepemiluan perlu terus diperkuat. Terlebih, masyarakat bukan sekadar objek dalam proses demokrasi, melainkan memiliki posisi penting sebagai peserta sekaligus partisipan.

“Ke depan kita harus sama-sama lebih banyak memahami tentang demokrasi dan kepemiluan, karena masyarakat memiliki peran sebagai peserta sekaligus partisipan dalam kehidupan demokrasi,” katanya.

Forum semakin menarik dengan hadirnya Direktur Akademi Pemilu dan Demokrasi sebagai narasumber. Kehadiran narasumber diharapkan mampu membuka perspektif baru sekaligus memperkaya diskusi mengenai arah demokrasi Indonesia.

Bagi peserta, forum ini menjadi kesempatan untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menguji gagasan melalui diskusi dan tanya jawab. Pertukaran pandangan menjadi bagian penting untuk membangun pemahaman yang lebih objektif terhadap berbagai persoalan demokrasi dan kepemiluan.

Melalui forum tersebut, KPU Banyuwangi mendorong agar budaya diskusi mengenai demokrasi terus tumbuh di tengah masyarakat. Demokrasi yang sehat membutuhkan masyarakat yang tidak hanya datang ke tempat pemungutan suara, tetapi juga memahami proses, hak, tanggung jawab, serta ikut menjaga kualitasnya.

Karena demokrasi bukan sekadar soal siapa yang dipilih. Demokrasi juga tentang bagaimana setiap warga memahami perannya untuk menjaga prosesnya tetap jujur, terbuka, dan bermartabat.

Penulis dan Editor : Humas Bawaslu Bayuwangi