Jangan Cuma Nyoblos! Bawaslu Banyuwangi Sentil Pemilih Pemula: Lawan Politik Uang, Jangan Jadi Korban Hoaks
|
Banyuwangi- Jangan sampai generasi muda hanya ramai di media sosial, tetapi pasif ketika demokrasi membutuhkan peran mereka. Menjelang Pemilu 2029, pemilih pemula di Banyuwangi didorong tidak sekadar datang ke TPS, melainkan ikut mengawal proses demokrasi sejak dini.
Pesan itu mengemuka dalam Konsolidasi Demokrasi yang digelar Bawaslu Kabupaten Banyuwangi, Selasa (15/9/2026). Generasi muda dibekali pemahaman tentang kepemiluan, hak dan kewajiban pemilih, bahaya politik uang, hingga ancaman hoaks dan informasi menyesatkan di media sosial.
Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kabupaten Banyuwangi, Luqman Wahyudi, menegaskan pemilih pemula memiliki peran penting dalam menentukan kualitas demokrasi ke depan.
Menurutnya, menjadi pemilih cerdas tidak cukup hanya mengetahui siapa yang akan dipilih. Pemilih juga harus mampu menilai informasi, memahami aturan, serta tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bentuk tekanan maupun informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan Mau Suara Dibeli
Politik uang menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut. Peserta diajak memahami bahwa suara dalam pemilu bukan barang dagangan yang dapat ditukar dengan uang maupun pemberian tertentu.
Pemilih pemula juga diminta berani mengatakan tidak terhadap praktik politik uang.
Sebab, pilihan di bilik suara memiliki konsekuensi terhadap arah pemerintahan dan kebijakan publik. Karena itu, hak pilih perlu digunakan secara sadar dan bertanggung jawab.
Tak kalah penting adalah ancaman informasi negatif yang bertebaran di media sosial. Hoaks, isu SARA hingga black campaign dapat menyebar cepat dan memengaruhi persepsi masyarakat.
Jangan asal klik, jangan asal percaya, dan jangan asal sebar.
Peserta didorong melakukan verifikasi sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi politik yang diterima melalui media sosial.
Medan Politik Bergeser ke Dunia Digital
Tantangan Pemilu 2029 dinilai tidak hanya terjadi di ruang-ruang kampanye konvensional. Perkembangan teknologi membuat ruang digital menjadi bagian penting dalam aktivitas politik.
Bahkan, perkembangan kecerdasan buatan atau AI menghadirkan tantangan baru. Konten yang dibuat dengan teknologi tersebut dapat membuat masyarakat semakin sulit membedakan informasi asli dengan konten yang telah dimanipulasi.
Karena itu, literasi digital dan literasi politik menjadi bekal penting bagi pemilih pemula.
Generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga harus mampu menjadi pengguna media sosial yang kritis dan bertanggung jawab.
Bawaslu Tak Bisa Mengawasi Sendirian
Di sisi lain, Bawaslu Banyuwangi mengingatkan bahwa pengawasan pemilu bukan hanya pekerjaan pengawas pemilu.
Jumlah jajaran pengawas yang terbatas dibandingkan luas wilayah dan kompleksitas tahapan pemilu membuat partisipasi masyarakat menjadi sangat penting.
Masyarakat dapat ikut mengawasi berbagai tahapan pemilu dan menyampaikan laporan apabila menemukan dugaan pelanggaran melalui mekanisme yang berlaku.
Dengan pengawasan partisipatif, masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam pesta demokrasi.
Masyarakat ikut menjadi mata dan telinga dalam mengawal pemilu.
Pemilu 2024 Jadi Bahan Evaluasi
Dalam diskusi, peserta juga diajak melihat kembali berbagai persoalan yang muncul dalam Pemilu 2024. Politik uang dan dinamika dalam proses politik menjadi bagian dari evaluasi untuk menghadapi Pemilu 2029.
Pembelajaran dari pemilu sebelumnya dinilai penting agar persoalan serupa dapat diantisipasi dan kualitas penyelenggaraan pemilu terus diperbaiki.
Luqman Wahyudi sebagai bagian dari unsur pimpinan Bawaslu Kabupaten Banyuwangi turut memberikan penguatan mengenai pentingnya pemilu yang berjalan berdasarkan aturan, hukum, serta prinsip demokrasi.
Pemilih Pemula, Jangan Cuma Jadi Penonton!
Pemilih pemula merupakan bagian penting dari masa depan demokrasi. Mereka bukan hanya calon pemilih yang akan menggunakan hak suara pada Pemilu 2029, tetapi juga bagian dari masyarakat yang dapat ikut menjaga proses demokrasi tetap berjalan sesuai ketentuan.
Karena itu, Bawaslu Banyuwangi mendorong generasi muda untuk berani menolak politik uang, kritis terhadap informasi digital, tidak menyebarkan hoaks maupun isu SARA, serta aktif mengawasi dan melaporkan dugaan pelanggaran.
Pesannya jelas: Pemilu bukan cuma soal siapa yang dicoblos. Pemilu juga soal bagaimana prosesnya dikawal bersama.
penulis dan Editor : Humas Bawaslu Banyuwangi